Popular Posts

Thursday, December 15, 2011




entahlah, aku pikir kita nikmati dulu perjalanan ini, tanpa perlu bertanya kemanakah tujuan kita. Aku terlalu lelah untuk membuat rencana, dan biarlah semuanya menjadi kejutan yang menyenangkan.
mungkin pernah terlintas di benakmu, betapa segala tentangku kadang terlihat mengabur. bukannya aku tak ingin membawamu ke tempat yang indah. Aku pernah menjadi seseorang dengan angan-angan yang tinggi, dan sempat kurencanakan sebuah tujuan, tetapi kau tahu?aku terhenti di tengah jalan. dan bekal yang kubawa hanya menjadi remah-remah basi yang bertebaran tak teratur di setapak.
dan sepertinya kau sesosok baru yang menyenangkan, kutemukan kenyamanan saat melalui setapak bersamamu. aku rindu mengait-ngaitkan jari jemari kita, aku suka dengan rangkaian delapan huruf tiga kata satu makna yang sering kau katakan padaku. hari, dan minggu tak pernah punya cukup tempat untuk menampung segala pembicaraan kita:aku seperti menemukan makna perjalanan denganmu.

tapi mungkin aku masih terlalu takut untuk berkhayal, melambungkan harapan dan mimpi-mimpi bersamamu, membayangkan tempat tujuan kita nanti. lagipula, kau terlalu indah bila hanya sekedar jadi tokoh utama dalam angan-angan, kau terlalu kucintai dan aku tak berani berjanji lebih dari itu.

Monday, December 12, 2011


kita tidak pernah sejauh ini sebelumnya, bukankah begitu? karena dulu setiap malam selalu ada menit untuk membicarakan segalanya-tentang apapun itu, diri sendiri,banyolan, dan cerita-cerita yang sebetulnya tak lucu tapi selalu kita tertawakan bersama. karena dulu selalu ada kumpulan waktu yang terbuang untuk hal-hal tak penting seperti mendengkur bersama, menonton acara membosankan yang sama, dan merusuhi pekerjaan yang sama. selalu ada.
kita tidak pernah sejauh ini sebelumnya. karena ada terlalu banyak hal yang ingin disampaikan namun hati tak sepenuhnya mencerna. karena banyak hal yang ingin diutarakan tetapi lidah tak sampai bicara. karena banyak hal yang seharusnya dijelaskan panjang lebar-yang kalau dilukiskan butuh tujuh gurun sebagai kanvasnya-dan detik tak akan sempat menampungnya. tak akan sempat.
terlalu banyak hari yang terbuang dengan sia-sia. dengan pandangan sepintas dan sepatah-dua patah tanya-jawab tak berarah.
kita tidak pernah sejauh ini sebelumnya.

Thursday, December 8, 2011

saya


ada suatu masa dimana saya cukup lelah hidup untuk orang lain. saya lelag pada kenyataan yang tidak saya harapkan. tahu tidak, rasanya sakit loh menemukan diri kita sendirian disaat kita ingin menangis dan ingin bercerita tentang banyak hal. tapi apa ada, setidaknya seseorang saja, atau mungkin itu kamu, yang bisa sedikit mengerti tentang hal ini? saya ingin mengeluh, saya ingin marah, lalu menangis, dan teriak di bahu seseorang entah siapa, tapi saya sendiri juga tidak tahu itu siapa? apa ada yang bisa menerima saya yang sebenarnya tanpa berkomentar sedikitpun? mungkin itu cuma imajinasi konyol ditengah hari yang dingin, hati yang bimbang tapi saya kadang ingin benar-benar meneriakkan keinginan saya yang sebenarnya. bahwa saya bosan.bosan.bosan.bosan bahwa saya ingin berteriak. dan bahwa saya ingin membunuh, yah, membunuh siapa saja seperti jack the ripper atau jason, bukankah pembunuhan bisa menjadi sebuah seni jika dilakukan secara terencana dan lewat hati? terlebih kalau membunuh beberapa orang yang kita benci, yang munafik, yang didepannya tidak hanya saya acungkan jari tengah tapi juga segala kesengsaraan dan benda-benda tajam.
saya bukan orang yang baik, kalau kamu ataupun siapa saja mau tahu. saya egois, kasar, pemarah, pendendam, mudah membenci tak terkecuali kamu. saya benci ketika segala sesuatu yang tidak berlangsung sesuai apa yang saya inginkan, saya juga benci janji-janji yang diingkari, dan saya benci terkurung sendirian. tapi apa perlu saya teriakkan ratusan kali didepan banyak orang seperti sirine tanda bahaya?kan tidak. saya terlalu pengecut untuk menjadi jahat.

Monday, December 5, 2011

rasaku saat ini

Kamu hanya sedang bertanya kepada dirimu tentang aku. Sebagaimana perasaanku dan pikiranmu tidak harus menjadi sama, demikian dengarlah aku! Jika aku mengatakan “I miss you”, sadarilah saja bahwa itu rasa yang besar, yang kukatakan dengan sederhana. Sudah, jangan menjadi sibuk menjelaskan apapun! Aku tidak memikirkan hal yang buruk tentangmu, karena aku tahu, menolakku itu pilihan berat. Jadi aku senang bila kini kamu tahu bahwa rindu tidaklah enteng. Sebagaimana kita pernah menghabiskan malam dengan hanya bertukar pikiran, demikian aku bisa menebak betapa beratnya pagimu tanpa pelukku. Kan begitu.


Bila aku harus menjauhimu, aku akan memulainya dengan berjalan mundur. Aku akan menghayati lambai tanganmu di selangkah demi selangkah. Kemudian saat mataku mulai berkaca-kaca, aku akan berkedip untuk membiarkan pipiku pasah. Aku akan menangisi jarak sambil menaruh harap untuk melayang-layang di atas tanah. Karena sejauh apapun kita terpisah, kita hanya sama-sama di bawah langit, masih di dalam bumi yang tidak lelah berputar terus.

Aku tidak tau apakah caraku menyukaimu ini benar atau tidak
Karena aku menyukaimu dengan cara yang seenaknya
Hanya ingin menemanimu dan berusaha untuk tidak menuntutmu apa-apa
Aku tidak memintamu untuk membuatkanku teh panas waktu aku sakit
Aku tidak memintamu membuatkan makanan saat aku sedang lapar
Dan aku tidak memintamu untuk tetap bangun menemaniku nonton bola hingga larut malam
Karena kamu memang tidak perlu mengusahakan apa-apa untuk menjadi orang yang aku suka
Mungkin memang begitu banyak kesalahan dan kesalahan dari awal hingga sekarang,
Dan sebisaku, aku tidak memaksamu untuk memaafkan, apalagi melupakan
Aku tidak ingin membebanimu dengan apa-apa,
Tidak dengan masa lalu, tidak dengan saat ini, juga tidak dengan masa depan
Aku juga tidak ingin membebanimu dengan perasaanku, atau malah mungkin, dengan perasaanmu.
Dan jika memang ternyata, diluar sana ada seseorang yang lebih tau bagaimana cara untuk menyukaimu daripada aku,
Yang bisa menjagamu, mengajarimu, dan menertawakanmu lebih dari caraku
Aku hanya bisa berharap semoga kamu bisa segera bertemu dengan dia, dan akhirnya saling suka.
Karena aku juga tidak ingin membebanimu untuk terus menyukaiku.

Sunday, December 4, 2011


terlepas dari Tuhan yang terlalu baik sama saya, selalu ada fase-fase bimbang gundah gulana resah khawatir cemas atau apalah sebutannya tentang beberapa hal. gimana caranya manusia bisa yakin dengan sesuatu yang selama ini dia percaya, dan kepercayaan itu bertahan sampai mati?
banyak orang punya fase ketika keimanannya sedikit banyak kebentur dengan fakta atau pengalaman dalam hidupnya. pada suatu titik akan terjadi tubrukan antara kenyataan dan sesuatu yang dia imani dan kalau dia nggak kuat, beberapa orang bisa lepas iman. kalau dia kuat, maka imannya bakal bertambah.
tapi hidup kan nggak segampang itu. fase-fase semacam itu bukan tamu yang mampir sekali seumur hidup, tapi bisa hadir berkali-kali. iman setiap orang itu diuji terus menerus. Tuhan seakan mengulur-ulur waktu doa dikabulkan, berpura-pura tuli dan diam, malas menjawab, atau jahat kepada Mahluknya.
padahal nggak. nggak sama sekali.
kalau Tuhan membencimu, kamu sudah mati. sudah berkalang tanah paling rendah diceburkan dalam panas yang dinamakan neraka. tapi nyatanya kamu masih hidup, sehat, walau nggak selalu bahagia. tapi cukup. seenggaknya Tuhan masih memberimu kasih sayang, rahmat, walau seringkali semua yang diberikan Tuhan itu nggak pernah dia labeli ‘ini lho Rahmatku’
Tuhan mau manusia menebaknya sendiri. mau manusia bersyukur, berpikir, berterima kasih.
Dia tak perlu sembilan belas tahun buat menunggu. saya yang perlu.